1. Teori Perbandingan Sosial (Social Comoarison Theory)
Teori atau pendekatan perbandingan sosial mengemukakan
bahwa tindak komunikasi dalam kelompok berlangsung karena adanya
kebutuhan-kebutuhan dari individu untuk membandingkan sikap, pendapat dan
kemampuannya dengan individu-individu lainnya. Pada pandangan teori
perbandingan sosial ini, tekanan seseorang untuk berkomunikasi dengan anggota
kelompok lainnya akan mengalami peningkatan, jika muncul ketidak setujuan yang
berkaitan dngan suatu kejadian atau peristiwa, kalau tingkat kepentingannya
peristiwa tersebut meningkat dan apabila hubungan dalam kelompok (group
cohesivenes) juga menunjukkan peningkatan.
Selain itu, setelah suatu keputusan kelompok dibuat,
para anggota kelompok akan saling berkomunikasi untuk mendapatkan informasi
yang mendukung atau membuat individu-individu dalam kelompok lebih merasa
senang dengan keputusan yang dibuat tersebut.Teori perbandingan
sosial ini diupayakan untuk dapat menjelaskan bagaimana tindak komunikasi dari
para anggota kelompok mengalami peningkatan atau penuruanan.
2. Teori Kepribadian Kelompok (Group Syntality Theori)
Teori kepribadian merupakan studi mengenai interaksi
kelompok pada basis dimensi kelompok dan dinamika kepribadian. Dimensi kelompok
merujuk pada cirri-ciri populasi atau karakteristik individu seperti umur,
kecendekiawanan (intelligence), sementara cirri-ciri kepribadian atau suatu
efek yang memungkinkan kelompok bertindak sebagai satu keseluruhan, merujuk
pada peran-peran spesifik, dan posisi status. Dinamika kepribadian diukur oleh
apa yang disebut dengan synergy, yaitu tingkat atau derajat energi dari setiap
individu yang dibawa dalam kelompok untuk digunakan dalam melaksanakan
tujuan-tujuan kelompok. Banyak dari synergy atau energi kelompok harus
dicurahkan ke arah pemeliharaan keselarasan dan keterpaduan kelompok.
3. Teori Percakapan Kelompok (Group Achievement Theory)
Teori percakapan kelompok ini sangat berkaitan dengan
produktivitas kelompok atau upaya-upaya untuk mencapainya melalui pemeriksaaan
masukan dari anggota (member input), variable-variabel perantara (mediating
variables), dan keluaran dari kelompok (group output). Masukan atau input yang
berasal dari anggota kelompok dapat diidentifikasikan sebagai perilaku,
interkasi dan harapan-harapan (expectation) yang bersifat individual. Sedangkan
variable-variabel perantara merujuk pada struktur-struktur formal dan struktur
peran dari kelompok seperti status, norma, dan tujuan-tujuan kelompok.
Yang dimaksud dengan output kelompok adalah pencapaian
atau prestasi dari tugas atau tujuan kelompok. Produktivitas dari suatu
kelompok dapat dijelaskan melalui konsekuensi perilaku, interaksi dan
harapan-harapan melalui struktur kelompok. Dengan kata lain, perilaku,
interaksi dan harapan-harapan (input variables) mengarah pada struktur formal
dan struktur peran (mediating variables) sebaliknya variabel ini mengarah pada
produktivitas, semangat dan keterpaduan (group achievement).
4. Teori Pertukaran Sosial (Socual Exchange Theory)
Teori pertukaran sosial ini didasarkan pada pemikiran
bahwa seseorang dapat mencapai satu pengertian mengenai sifat kompleks dari
kelompok dengan mengkaji hubungan di antara dua orang (dydic relationship).
Suatu kelompok dipertimbangkan untuk kumpulan dari hubungan antara dua
partisipan tersebut. Perumusan tersebut mengasumsikan bahwa interaksi menusia
melibatkan pertukaran barang dan jasa, dan bahwa biaya (cost) dan imbalan
(reward) dipahami dalam situasi yang akan disajikan untuk mendapatkan respon
dari individu-individu selama interaksi sosial.
Jika imbalan dirasakan tidak cukup atau lebih banyak
dari biaya, maka interaksi kelompok akan diakhiri atau individu-individu yang
terlibat akan mengubah perilaku mereka untuk melindungi imbalan apa pun yang
mereka cari. Pendekatan pertukaran sosial ini penting karena berusaha
menjelaskan fenomena kelompok dalam lingkup konsep-konsep ekonomi dan perilaku
mengenai biaya dan imbalan.
5.
Teori
Pemikiran Kelompok ( Groupthink Theory)
Pemikiran
kelompok didefinisikan sebagai suatu cara pertimbangan yang digunakan anggota
kelompok ketika keinginan mereka akan kesepakatan melampaui motivasi mereka
untuk menilai semua rencana tindakan yang ada. Janis berpendapat bahwa anggota-anggota
kelompok sering kali terlibat dalam sebuah gaya pertimbangan dimana pencarian
consensus ( kebutuhan akan semua orang untuk sepakat).
Janis yakin bahwa apabila kelompok yang kemiripan
antar anggotanya tinggi dan memiliki hubungan baik satu sama lain gagal untuk
menyadari sepenuhnya akan adanya pendapat yang berlawanan ,ketika mereka
menekan konflik hanya agar mereka dapat bergaul dengan baik, atau ketika
anggota kelompok tidak secara penuh mempertimbangakan semua solusi yang ada,
mereka rentan terhadap groupthink. Ia berpendapat bahwa ketika kelompok sedang
berada dalam groupthink, mereka serta merta akan terlibat dalam mentalitas
“menjaga keharmonisan kelompok” (Janis, 1998, hal 60). Hingga pada titik ini,
menciptakan perdamaian lebih penting daripada membuat keputusan yang jelas dan
sesuai.
Kelompok kelompok yang memiliki tingkat kohesivitas
tinggi sering kali gagal untuk mempertimbangkan alternatif-alternatif dari
tindakan yang mereka ambil. Ketika anggota kelompok berpikir sama dan tidak
memiliki pemikiran yang berlawanan, mereka juga memiliki sedikit kemungkinan
untuk menyatakaan ide-ide yang tidak popular atau tidak serupa dengan anggota
kelompok lainnya. Groupthink menyatakan bahwa kelompok-kelompok ini membuat
keputusan yang terlalu dini, dan beberapa di antara keputusan tersebut memiliki
dampak yang tragis dan berkelanjutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar