Namaku Fajar Ramadhan, Saat ini aku berusia 16 tahun, siswa kelas 1 disekolah menengah atas ternama di kotaku. Aku menyukai seorang gadis bernama Devi Angraini, Devi adalah temanku sejak kecil, aku mengenalnya sejak masih di TK, dia adalah teman wanita pertama yang kumiliki, saat itu dia adalah wanita yang lemah, cengeng, tapi juga manis, membuatku ingin selalu disampingnya dan melindunginya. Kami selalu bersama sejak itu dan entah sejak kapan perasaanku berubah menjadi cinta, aku tidak tahu pasti tapi aku yakin bahwa perasaan ini adalah cinta dan Devi adalah cinta pertama di hidupku.
“Fajar...” Seseorang memanggilku dari belakang, suara itu sangat akrab ditelingaku, suara yang bisa membuat jiwaku bergetar, itu Devi dia berlari kearahku.
“Iya Dev.. ada apa... ?” Jawabku sambil berbalik kearahnya.
“Ayo pulang bareng...” Ajaknya.
“Bukannya kamu tadi ada rapat osis...?” Tanyaku.
“Iya, Baru saja selesai, makanya aku langsung pulang...” Jawabnya sambil tersenyum.
Entah sudah berapa kali ini terulang, senyumannya selalu membuat hatiku berdebar, hanya dengan melihatnya membuat jiwaku tentram, hanya dengan memikirkannya membuatku bahagia. Perasaan ini seperti ingin meledak, jiwaku ingin berteriak tak kuat menahannya, aku ingin menyatakannya tapi aku tak punya keberanian, takut kalau hal itu dapat membuatnya menjauh dariku, aku rahasiakan perasaanku ini selama 10 tahun kemudian aku sadar jika terus menerus merahasiakannya maka tidak akan ada yang berubah.
“Besok aku akan nyatakan perasaanku padanya...” Pikirku, saat berdiri di depan cermin.
Esok harinya aku bergegas kekelasnya saat jam istirahan pertama, karena kami berbeda kelas, aku kelas 1F yang berada dilantai dasar sedangkan Devi dikelas 1B dilantai dua, akupun berlari kencang sambil berkata dengan diriku sendiri “akan kunyatakan perasaanku saat ini juga”, namun saat aku ingin menyapanya dia sedang berbicara dengan Rian si ketua osis, dia tersenyum padanya, pikiranku seketika kacau, ku batalkan niatku lalu aku menuruni tangga yang barusan kunaiki dengan tergesa-gesa, Sepanjang hari itu aku tak bisa memikirkan apapun, akupun langsung pulang saat jam istirahat kedua.
Sepanjang malam aku berpikir keras. Aku pikir hanya aku laki-laki yang dekat dengannya, hanya aku yang bisa membuatnya tersenyum, hanya aku yang selalu ada untuknya. Aku tahu Devi sangat populer sejak Smp banyak yang menyatakan cinta padanya tapi tidak ada satupun yang dia terima, aku pikir dia tidak akan jatuh cinta dengan mudah jadi aku bisa mengungkapkan perasaanku kapanpun padanya, tapi aku sadar betapa naifnya diriku dan betapa sempitnya pikiranku, hanya tinggal menunggu waktu sampai dia jatuh cinta pada orang lain, ya.. seseorang seperti Rian anggara, Ketua osis, kapten tim sepak bola sekolah, pintar, tampan, ramah, dan populer dikalangan perempuan, mana bisa aku menggalahkannya, ini adalah akhir bagiku, kenapa tidak dari dulu saja aku bilang kalau aku menyukainya hanya penyesalanku yang tersisa, sepanjang malam aku terus berpikir sampai aku tidak bisa tidur malam itu.
Esok harinya badanku terasa sangat berat, mataku sangat susah untuk dibuka mungkin karena semalaman aku tidak bisa tidur, aku tidak ingin melakukan apapun hari ini jadi lebih baik aku tidur.
“Ahh... mungkin hari ini aku tidak perlu berangkat sekolah...” gumamku, sambil menarik selimut menutupi seluruh tubuhku.
“Fajar... ayo bangun nanti kamu terlambat...” kata mama, sambil mengetuk pintu kamarku.
“Fajar ngak sekolah hari ini Ma.... Fajar ngak enak badan” jawabku berbohong.
“Ya udah... kamu istirahat saja nanti mama buatkan bubur” balas mama.
Apa yang ku lakukan, bukan hanya membohongi diriku sendiri aku juga berbohong pada orangtuaku, pikirku saat menutup rapat kedua mataku.
Hari sudah sore saat aku membuka mataku. Sepertinya sudah lama aku tertidur dan aku terkejut seseorang berada dikamarku.
“Dev... apa yang kau lakukan dikamarku” tanyaku kaget.
“Tadi kata temanmu kamu tidak masuk, jadi aku kesini... terus mama kamu bilang kamu lagi sakit, jadi aku langsung kekamarmu” jawabnya.
“Sudah lama kamu disini” tanyaku lagi.
“Belum... baru sekitar 15 menit” jawabnya sambil melihat-lihat isi kamarku .
“Sudah lama ya.. sejak terakhir kali aku masuk kekamarmu” kata Devi.
“Iya... Mungkin sejak kita SMP kelas 2, saat itu kita belajar bersama buat persiapan kenaikan kelas” jawabku sambil berusaha untuk duduk.
“Ini foto waktu perkemahan saat kelas lima SD kan.. ?” tanyanya sambil menunjuk salah satu foto didinding kamarku.
“Iya...” jawabku singkat.
“Aku pulang dulu ya... sepertinya kamu sudah agak mendingan” katanya sambil tersenyum.
“Iya... hati-hati dijalan, maaf sudah membuatmu khawatir”
“Tidak usah terlalu kaku begitu.. Kita kan teman sejak kecil” jawabnya saat hendak keluar dari kamarku.
Pintu sudah tertutup, dia sudah tidak ada dikamar ini lagi, tapi kata terakhirnya membuatku sadar.
“Aku tak ingin hanya sekedar menjadi temannya aku ingin menjadi kekasihnya, dia masih peduli padaku berarti masih ada harapan” pikirku. Besok akan kumulai pertempuranku, aku tidak peduli walau harus melawan orang paling populer disekolah, aku akan berusaha untuk menang apapun yang terjadi, tak akan kubiarkan cintaku mati begitu saja.
***
Esok harinya.
“Dev... kamu ada waktu ngak jam istirahat pertama” tanyaku.
“Maaf, jam istirahat nanti ada rapat osis” jawab Devi.
“Kalau nanti pulang sekolah... kamu ada waktu ?” tanyaku lagi.
“Ada sih... Tapi nanti masih ada rapat jadi agak sore, memangnya ada apa ?”
“Nanti saja aku beritahu... Aku tunggu di taman, jika kamu tidak menemukanku tunggu saja dibawah lampu taman dekat jam taman, aku akan kesitu menemuimu”
Aku sengaja memilih taman ini sebagai tempat menyatakan perasaanku, karena disini banyak kenangan yang kami alami bersama, jadi akan lebih mudah untuk menyatakan perasaanku, Taman ini sangat besar aku sengaja menyuruhnya menungguku di bawah lampu taman dekat jam taman karena tempat itu berada tepat ditengah taman jadi akan lebih mudah menemukannya kalau dia tersesat, walaupun aku tahu dia akan ketempat ini markas rahasia kami sejak kecil, sebuah bangunan yang berbentuk seperti bola yang menancap ditanah, didalamnya terdapat ruangan yang tidak begitu luas hanya cukup untuk dua orang dewasa, tempat kami menghabiskan waktu bersama sejak kecil.
Aku sudah menunggunya selama empat jam, sekarang sudah hampir jam 6 sore tapi dia belum juga datang, aku khawatir terjadi sesuatu padanya jadi aku bergegas mencarinya keseluruh taman tapi tidak menemukan dia, “apa dia belum datang ?, mungkin aku lebih baik menunggunya didepan taman, lalu bergegas kemarkas rahasia kami saat dia sudah datang nanti” pikirku.
Atau...jangan-jangan dia masih rapat disekolah, atau mungkin dia sudah pulang kerumah karena mengira aku sudah pulang. Mungkin lebih baik aku menunggunya sedikit lagi, jika dia tidak datang hari ini aku akan katakan perasaanku besok saja.
Seseorang datang dari kejauhan, mungkin itu dia, tapi seseorang bersamanya, “apakah itu orang lain” pikirku. Orang itu semakin mendekat dan akhirnya bisa terlihat dengan jelas, itu Devi dia bersama dengan Rian. Kenapa dia bersama dengannya, apa mereka sudah pacaran ?, tapi kenapa Devi tidak bilang, atau jangan-jangan dia ingin bilang saat berkunjung kerumahku tapi karena aku sakit jadi dia mengurungkan niatnya, terus kenapa dia menerima ajakkanku, apa karena dia ingin bilang kalau dia sudah punya pacar, tapi kenapa, kenapa mereka terlihat sangat akrab, itu berati dia sudah menolakku sebelum aku menyatakan perasaanku. Tanpa berpikir lagi aku langsung berlari sekencang mungkin, air mata terus mengalir membasahi pipiku, ini cuman mimpi aku akan pulang dan segera tidur, mungkin saat bangun besok semua yang kualami hari ini hanya sebuah mimpi. Aku berlari sangat kencang hingga tersandung, aku terjatuh, kaki dan tanganku terluka dan ini terasa “Sakit”, ini bukan mimpi semua yang kualami hari ini adalah kenyataan. “Aaahhhh” aku hanya bisa berteriak sekeras mungkin untuk mengobati rasa sakit ini, rasa sakit karena cintaku bertepuk sebelah tangan, rasa sakit karena sikapku menunda-nunda untuk mengungkapkan perasaanku hingga semua sudah terlambat, rasa sakit karena kebodohanku selama ini.
Saat sampai dirumah aku langsung kekamar, kukunci kamarku, kubaringkan tubuhku ditempat tidur, kuselimuti tubuhku yang kotor dan terluka, dan kucoba untuk menutup mataku tapi air mataku tak kunjung juga berhenti. Aku hanya bisa melamun sampai suara ketukan pintu menyadarkanku.
“Fajar... apa kamu didalam” tanya mama.
“Iya ma... ada apa” jawabku pelan.
“Tadi mamanya Devi datang kerumah, dia tanya apa kamu ketemu Devi hari ini”
“Ngak ma... memangnya kenapa ?” tanyaku.
“Kata mamanya Devi... tadi Devi bilang kalau dia pulang telat karena rapat osis, tapi sudah malam begini Devinya belum juga pulang”
“Devi belum pulang ? bukannya tadi dia jalan sama Rian, atau jangan-jangan...” pikirku sambil melirik jam dinding.
Sudah jam setengah sepuluh malam, udara dingin masuk kekamarku tanda kalau sebentar lagi hujan akan turun, aku langsung membuka pintu kamarku dan berlari tanpa berkata sepatah katapun. “Ini semua salahku, dia mungkin ada di taman saat ini menungguku” pikirku sambil terus berlari.
Akhirnya sampai juga ditaman, aku langsung kemarkas rahasia kami, tapi dia tidak ada disitu, berarti dia ada disana ditengah taman dibawah lampu taman, hujanpun turun dengan deras, dan akhirnya aku sampai disana, dan kulihat seseorang berdiri dibawah lampu taman.
“Devi...” teriakku.
Iya... itu Devi, dia berbalik, dan berlari kerahku, dia langsung memelukku erat, bajunya basah karena hujan, tubuhnya dingin dan gemetaran karena ketakutan, dia memelukku dibawah hujan, dibawah sinar lampu taman yang redup.
“Kenapa lama sekali bodoh, aku takut kau tidak ada disini, aku ingin pulang tapi kamu bilang bahwa kamu akan datang” makinya sambil menagis dipelukanku.
“Maaf... Membuatmu menunggu sangat lama”
“Aku menunggumu, aku menuggumu sangat lama” suaranya semakin lirih.
“Aku kira kamu tidak jadi datang, makanya aku pulang”
“Mengapa kamu berpikir seperti itu ?” suaranya hampir tertutup suara hujan.
“Tadi aku melihat kamu pulang bersama Rian, aku kira kalian pacaran, jadi aku langsung pulang”
“Tadi rapatnya sampai jam lima sore karena khawatir, dia antar aku pulang sekalian karena searah”
“Maaf aku kira kau menyukainya, kerena kalian sangat akrab jika bersama”
“Kami hanya membicarakan tentang persiapan kegiatan osis yang tinggal 2 minggu lagi, lagian aku juga menyukai orang lain”
“Siapa ?” tanyaku
“..........” Devi tidak menjawabnya, tangisannya mulai berhenti, dia melepaskan pelukannya dan berbalik membelakangiku
***
Hujan mulai reda dan sinar bulan mulai terlihat.
“Aku menyukaimu Devi... aku menyukaimu sejak kita kecil... kaulah cinta pertamaku dan cinta terakhirku” Suara lantangku memecah keheningan.
Devi tidak merespon sama sekali.
“Maukah kau menjadi pacarku... dan selalu berada disisiku untuk selamanya” tanyaku.
Devi tidak menjawab, tapi dia berbalik, dia menagis lagi tapi kali ini berbeda dengan tangisan yang sebelumnya, ya dia menangis sambil tersenyum.
“Kenapa baru sekarang....” jawab Devi sambil memukulku pelan
“Apakah kau juga mencintaiku....apakah kau mau jadi pacarku” tanyaku sekali lagi.
Dia mengangguk pelan.
“Apa dia menerimanya ? Apa itu berarti dia juga menyukaiku ?” pikirku.
“Iya, aku juga menyukaimu” katanya pelan.
“Aku menyukaimu sejak kita SD... saat acara kemping kelas lima”
“Aku selalu menyukaimu sejak itu” sambung Devi
“Tapi mengapa, kukira saat itu kau menyukai orang lain”
“iya saat itu aku menyukai seseorang, dia selalu berada disisiku, dia satu-satunya laki-laki yang perhatian padaku”
“Aku menyukaimu sejak saat itu Fa...”
Sebelum devi selesai berbicara aku langsung memeluknya erat dan kubisikan ditelinganya “aku juga sangat mencintaimu dan akan selalu mencintaimu” lalu kukecup bibir merahnya.
Wajah devi memerah, dia tersipu malu, dia terdiam tanpa sepatah katapun.
“Sudah malam... ayo kita.pulang” kataku sambil menggandeng erat tanganya
Hari itu aku berjanji pada diriku sendiri tak akan membuatnya menangis lagi seperti hari ini, akan selalu kubuat dia tersenyum sampai hari dimana tuhan mencabut nyawa ini
Hari ini tak akan kulupakan seumur hidupku, hari dimana Hujan dan Sinar bulan menjadi saksi awal perjalanan cintaku.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar